Latest Post

22 PROPOSAL LOLOS KOPSI 2020




TIM KOPSI SMA N 1 MUNTILAN 

BERJAYA DENGAN 22 PROPOSAL





         Sebagai sekolah terbaik di Kabupaten Magelang, SMA N 1 Muntilan justeru tertantang dengan situasi ini. Sekolah yang terbiasa berprestasi di bidang akademik maupun nonakademik ini tetap berkomitmen untuk mempertahankan prestasi dan prestise. Sayangnya, untuk meraih prestasi tersebut tidaklah mudah di era pandemi ini. Beberapa ajang kompetisi yang menjadi arena bagi siswa untuk meraih prestasi harus tertunda. Padahal, beberapa siswa SMA N 1 Muntilan sudah menjadi finalis di beberapa lomba. Beberapa ajang kompetisi yang harus tertunda dan akhirnya gagal.

        Kegagalan penyelenggaraan kompetisi tersebut tentu sangat disesali oleh para siswa sebagai finalis. Pun bagi sekolah memang mengecewakan karena gagal mendapatkan prestasi. Namun, hal tersebut tidak boleh menyebabkan sekolah menjadi patah arang. Perlu dicari jalan untuk tetap berprestasi. Meskipun, setiap orang harus dipingit di rumah, namun jangan pernah berhenti berprestasi. Sebab, dulu R.A. Kartini ketika dipingit, karyanya tetap mendunia. Saat ini mungkin setiap siswa dipingit oleh pandemi Covid-19 untuk tetap berada di rumah, namun karyanya tetap harus menjelma. 

        Sebagai guru bahasa Indonesia, penulis tergugah untuk mengarahkan pembelajaran daring secara lebih inovatif dan produktif. Pembelajaran seperti ini kiranya tidak akan membuat siswa merasa jenuh dan cepat bosan. Kompetensi Dasar (KD) di kelas XI sebenarnya memang berat dan rumit di semester 2. Materi penyusunan proposal dan karya ilmiah ini semakin berat ketika harus diajarkan melalui pembelajaran daring. Dengan KD seperti tersebut, akan dihasilkan produk tuisan yang sebenarnya sangat bermanfaat bagi siswa dan bagi sekolah. Oleh karena itu perlu ada pemikiran untuk mengarahkan hasil tulisan siswa tersebut untuk menjadikannya sebuah prestasi.

        Kompetisi Penelitian Siswa Indonesia (KOPSI) adalah ajang kompetisi untuk karya tulis ilmiah hasil penelitian siswa. Berikut ini tahapan keikutsertaan dalam lomba karya ilmiah melalui KOPSI 2020. Sebenarnya, penyusunan proposal penelitian ini berupa KBM biasa yang selama pandemi dilanjutkan dengan sistem BDR (Belajar Dari Rumah). Jadi, setiap siswa kelas XI harus belajar  menyusun proposal. Pada saat penyusunan proposal ini siswa dibebaskan memilih topik sesuai bidang yang diminati. Meskipun berbagai topik yang dibahas siswa, bisa dikelompokkan sesuai klasifikasi bidang oleh panitia KOPSI.

        Tiga kelompok bidang yang dimaksud adalah, (1) Ilmu Sosial dan Humaniora (ISH), (2) Matematika, Sains, dan Teknologi (MST), dan (3) Fisika, Terapan, dan Rekayasa (FTR). Untuk kategori yang pertama, ISH, mencakupi seni, budaya, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi,  bahasa, dan sastra. Sedangkan bidang MST, mencakupi farmasi, biomedis, kesehatan, dan  teknologi. Terakhir, kelompok FTR mencakupi rekayasa informatika (Aplikasi Piranti Lunak), Rekayasa Grafis, Elektronik, Robotik, Mekatronik, Sistem Sensor-Kontrol, dan Rekayasa Transportasi.


Berikut adalah tabel yang menunjukkan jumlah dan proposal yang lolos pada ajang KOPSI 2020

NO

BIDANG

JUDUL

PENULIS

STATUS

1

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Mengungkap Nilai Budaya Permainan Gobak Sodor

AGHNIA AMALIA

Lolos Penilaian

2

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Nilai Pendidikan Dalam Novel Sang Pemimpi Karya

Andrea Hirata

AIDA HAYA AFIFAH

Lolos Penilaian

3

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Membaca Prasasti Situs Candi Gunung Wukir Dengan  Teknik Hermeunetika

ASMA` KHOIRUNNISA`

LAILY NURUL KHASANAH

Lolos Penilaian

4

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Program Pembelajaran Alquran Menggunakan Teknik Mujawwad

Pada Anak-Anak Di Dusun Saran, Desa Gondosuli

DANNY SETYAWAN

Lolos Penilaian

5

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Klenteng Hok An Kiong Sebagai Pusat Akulturasi Budaya Di Muntilan

EVA YUNIZAR REZA P.P.

Lolos Penilaian

6

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Nilai Positif Yang Terdapat Pada Tradisi Rajaban Di Dusun Suwanting, Desa

Banyuroto

HASNA RAFIFA BALQIS

Lolos Penilaian

7

MST

(Matematika, Sains, Teknologi)

Botol Perangkap Untuk Menyelamatkan Salak Dari Hama Lalat

Buah

IWAN SYAIFULLAH

Lolos Penilaian

8

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Respon Siswa Terhadap Pnerapan Tes Berbasis Android Di SMA N 1 Muntilan

JULIA TRI KUSUMAWATI

Lolos Penilaian

9

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Nilai Positif Pasar Lembah Merapi

 

GIRDA HANUM ALKHANZA

 

LINTANG AVRIL AZ ZAHRA

Lolos Penilaian

10

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Dampak Sosioekonomi Taman Ramadanu Bagi Masyarakat Desa Jamuskauman Kecamatan Ngluwar

MAKHRUM IRMANINGSIH

Lolos Penilaian

11

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Penggunaan Butterfly Pea (Clitoria Ternatea) Sebagai Antioksidan Alami Penangkal Konjungtivitis Di Dusun Tingal Kulon, Wanurejo

MONICA PADMAGUSNA NARITA

Lolos Penilaian

12

FTR

(Fisika, teknologi, Terapan)

Penggunaan Light Dependent Resistor dalam Saklar Lampu untuk Mendukung Progam Penghematan Energi

MUHAMAD RADITYA DANU CARITA

Lolos Penilaian

13

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Respon Masyarakat Terhadap Tas Go-Green

MUNIFAH ISTNIATIKA ROZANA

Lolos Penilaian

14

MST

(Matematika, Sains, Teknologi)

 

Pemanfaatan Monosodium Glutamat Dalam Mempercepat Pertumbuhan Eksplan Pada Setek Batang Tanaman Mawar

MUSTHOFA AHMAD LUTHFI

Lolos Penilaian

15

MST

(Matematika, Sains, Teknologi)

 

Pemanfaatan Tanamaan Krokot Sebagai Obat Pegal Linu

NABILA AYU AZZAHRA

Lolos Penilaian

16

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Tanggapan Siswa Terhadap Kegiatan Friendly Matcth Sma N 1 Muntilan

NATALIE MERRY ANGELINA

Lolos Penilaian

17

FTR

(Fisika, teknologi, Terapan)

Arang Batok Kelapa Sebagai Filterisasi Air Sumur Berkadar Besi Tinggi Di Perumahan Pring Asri Gunungpring

RACHELLIA AYU HERDANI

Lolos Penilaian

18

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Animo Masyarakat Dusun Tejowarno Dalam Menjaga

Keamanan Dan Ketertiban Melalui Siskamling

RISA NOVIANA

Lolos Penilaian

19

MST

(Matematika, Sains, Teknologi)

 

Penggunaan Bawang Merah (Allium Cepa Var. Ascalonicum) Sebagai Obat Demam Anak Di Dusun Denokan, Sawangan

SEVIRA KHAIRATUN HISAN

Lolos Penilaian

20

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Eksistensi Trilogi Candi Sengi Pasca Erupsi Merapi 2010

 

SYIFA AULIA PRAMUDANI

Lolos Penilaian

21

ISH

(Ilmu Sosial, Humaniora)

Pengaruh Kebijakan Refuse Plastik Terhadap Kuantitas Sampah

TRI ENDANG FATMAWATI

Lolos Penilaian





KAPAN BAHAGIA

KAPAN  BAHAGIA

Oleh : Inok Binawa

Jika ada orang mengucapkan, "Jangan lupa bahagia ya!" itu sebenarnya ditujukan untuk siapa? 

Menurut saya, itu bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Orang yang senang mengucapkan pesan seperti ini -bisa jadi- hanya sekadar menakar kebahagiaan orang lain dengan takarannya sendiri. Ia menganggap orang lain seperti dirinya yang sulit menciptakan bahagianya sendiri. 
Ia sedang menasihati sendiri untuk tetap bahagia di tengah kegetiran hidupnya.

Orang yang hidupnya bahagia tak akan  memiliki waktu untuk mengusik kehidupan orang lain. Pun untuk sekadar mengingatkan untuk bahagia.  Ia akan yakin bahwa orang lain memiliki bahagianya sendiri-sendiri.  Dan, nyatanya, setiap orang memiliki takaran bahagia sendiri-sendiri. 

Apa yang terasa berat pada orang lain -sebenarnya- bukan ukuran apakah ia bahagia atau tidak. Atau, sebaliknya, apa yang membuat kita bahagia, belum tentu hal itu menjadi penyebab bahagianya orang lain. Setiap orang -sekali lagi- memiliki bahagianya sendiri. 

Alasan Bahagia

Suatu saat, di kelas parenting, seorang lelaki tengah baya yang menjadi mentor di kelas itu menuturkan  kebiasaannya di rumah. Ia selalu memasak untuk keluarganya di hari libur. Tugas memasak ini diawali dari berbelanja, memasak, menyajikan, dan membereskan dapur dalam keadaan bersih. Padahal, sebagai seorang ekskutif di perusahaan ternama, sebenarnya ia tak harus begitu. Ia bisa saja membawa keluarganya untuk makan di resto untuk memanjakan lidah. Tapi lelaki ini memilih memasak sendiri. Bahkan untuk urusan rumah tangga yang lain, seperti bebres rumah, bertaman, atau mengurusi pakaian anak-anak yang biasanya dikerjakan oleh perempuan. 


Mendengar aktivitas domestik pria tersebut, ibu-ibu yang hadir di kelas parenting itu berdecak kagum. Lalu, seorang ibu menyeletuk, "Wah, bahagia sekali isteri Bapak, ya?" Pertanyaan itu tentu saja mewakili banyak ibu yang lainnya. Dan, jawabannya, sudah barang tentu sangat ditunggu.

"Oh, saya tidak tahu isteri saya bahagia atau tidak dengan kegiatan saya ini. Saya juga melakukannya untuk kebahagiaan saya sendiri, bukan untuk kebahagiaan  isteri saya." 

"Tapi kebangetan jika isterinya tidak bahagia, memiliki suami seperti itu," bisik ibu yang lainnya. 

"Isteri saya orang yang mandiri. Kebahagiannya tidak bergantung pada orang lain. Dia punya ukuran sediri untuk kebahagiannya. Saya bangga padanya. Sebab, kebahagiaannya tidak ditentukan oleh sikap saya. Jadi, jika suatu saat saya tidak melakukan aktivitas seperti saya ceritakan tadi, isteri saya tidak akan kehilangan bahagianya." 

Hak Bahagia


"Dia sih pantas bahagia dengan apa yang sudah diraihnya sekarang ini."
"Kamu harusnya bersyukur. Tidak banyak orang yang sebahagia kamu."
"Saya tidak mau bersenang-senang dulu sampai rumah saya jadi, besok."

Orang-orang yang mengucapkan kata-kata tersebut hidupnya bisa kering. Sebab ia memandang kebahagiaan seperti memandang pelangi yang selalu berada di atas kepala orang lain. Pandangan seperti ini selalu menempatkan orang lain yang berhak bahagia, sedangkan dirinya tidak. Ia mengira bahagia itu menjadi hak orang lain. Dia merasa belum saatnya berbahagia.

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk berhak bahagia. Mereka yang menunda bahagia itu belum tentu akan meraih bahagianya pada waktu yang diimpikannya. Atau, bisa jadi, ketika waktu bahagianya tiba, usianya sudah tidak memenuhi syarat untuk bahagia (ups...!).
Pikirkan baik-baik untuk menunda bahagia atau mencari-cari waktu untuk bahagia. 

Jadi, kapan kita akan bahagia?

Bahagia itu tidak akan datang kalau kita tidak menciptakan. 
Ciptakan kebahagiaan Anda tanpa menundanya.







DUALISME DALAM UN 2016

Dok. Pribadi



DUALISME DALAM  UN 2016
Oleh:
Dra. Puji Handayani, M.Pd
(SMA N 1 Muntilan)

Ujian Nasional (UN) tinggal menghitung hari. Berbagai persiapaan dilakukan oleh sekolah untuk menyukseskan program pemerintah ini.  Bagi Peserta didik, UN  bertujuan  untuk  mengukur  pencapaian  kompetensi  lulusan  pada  mata pelajaran  secara  nasional  dengan  mengacu  pada  Standar  Kompetensi  Lulusan. Sedangkan bagi negara, UN  menjadi  sub-sistem  penilaian  dalam  Standar  Nasional  Pendidikan  (SNP) menjadi  salah  satu  tolak  ukur  pencapaian  SNP  dalam  rangka  penjaminan  dan peningkatan mutu pendidikan.
Kendati UN menjadi agenda tahunan, selalu ada hal baru yang perlu dicermati di setiap penyelenggaraan UN, terlebih untuk  UN tahun 2016 ini. Permendikbud No. 5 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) mengisyaratkan adanya dualisme dalam penyelenggaraan UN 2016. Dualisme itu menyangkut cara penyelenggaraan dan materi ujian.
PBT dan CBT
Pasal 20  ayat 1 Permendikbud No. 5 Tahun 2015 menginformasikan bahwa Pelaksanaan UN SMP/MTs, SMA/MA/SMAK/SMTK dan SMK/MAK dapat dilakukan melalui ujian berbasis kertas (Paper Based Test) dan/atau ujian berbasis komputer (Computer Based Test). Penyelenggaraan Uijan Nasional berbasis komputer pada tahun ini merupakan kelanjutan dari program rintisan di tahun 2015. Pada saat itu rintisan UNBK  mengikutsertakan sebanyak 555 sekolah yang terdiri atas  42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 378 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Kesuksesan penyelenggaraan CBT (UNBK) mendorong pemerintah untuk melanjutkankannya.
Ada beberapa alasan mengapa pemerintah perlu didukung untuk melanjutkan program rintisan penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ini. Pertama, UNBK (CBT) lebih hemat dibandingkan dengan PBT yang menggunakan kertas soal untuk sekali pakai. Dalam UNBK, soal bisa digunakan berulang-ulang tanpa harus ada pemborosan kertas. Kedua, UNBK lebih efisien dalam hal penggandaan soal, pendistribusian, dan pengamanan. Ketiga, UNBK lebih mengedepankan kejujuran bagi para peserta karena kemungkinan mencontek lebih kecil. Dan, keempat, UNBK dapat meminimalisasi kebocoran soal.
Dua Kurikulum
Bukan hanya medianya yang ganda, materi untuk UN 2016 juga mencakupi materi dari dua kurikulum. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2013, Indonesia menerapkan kurikulum ganda, yakni kurikulum 2013 dan kurikulum 2006. Padahal, salah satu fungsi UN adalah untuk melakukan pemetaann. Bagaimana pemetaan bisa dilakukan jika harus ada dua macam soal?  Terkait dengan hal ini, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengidentifikasi materi-materi yang sama diantara kedua kurikulum tersebut. Identifikasi yang dilakukan mewujudkan adanya materi irisan.
Peraturan  Badan  Standar  Nasional Pendidikan  Nomor:  0034/P/BSNP/XII/2015  tentang  Prosedur  Operasional  Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016 menegaskan  bahwa Materi  yang  diujikan  dalam  UN  adalah  materi  yang  diajarkan  pada  kurikulum yang  berlaku  berdasarkan  Permendikbud  No mor  22  Tahun  2006  dan Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013. Hasil identifikasi dari dua kurikulum tersebut digunakan untuk menyusun SKL dan kisi-kisi.

Adanya dualisme dalam UN 2016 semestinya tetap disikapi secara positif. Pemerintah pasti sudah mengupayakan hal terbaik. Oleh karenanya, sekolah tetap harus bersikap optimis  menyambut UN 2016.  Optimisme itu dapat diwujudkan dalam upaya memotivasi peserta didik untuk berusaha secara optimal menghadapi UN. Mari kita rayakan UN 2016 dengan berpedoman pada motto: Prestasi Ya, Jujur Harus!
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Binawa Litera - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger