Latest Post

KAPAN BAHAGIA

KAPAN  BAHAGIA

Oleh : Inok Binawa

Jika ada orang mengucapkan, "Jangan lupa bahagia ya!" itu sebenarnya ditujukan untuk siapa? 

Menurut saya, itu bukan untuk orang lain, melainkan untuk dirinya sendiri. Orang yang senang mengucapkan pesan seperti ini -bisa jadi- hanya sekadar menakar kebahagiaan orang lain dengan takarannya sendiri. Ia menganggap orang lain seperti dirinya yang sulit menciptakan bahagianya sendiri. 
Ia sedang menasihati sendiri untuk tetap bahagia di tengah kegetiran hidupnya.

Orang yang hidupnya bahagia tak akan  memiliki waktu untuk mengusik kehidupan orang lain. Pun untuk sekadar mengingatkan untuk bahagia.  Ia akan yakin bahwa orang lain memiliki bahagianya sendiri-sendiri.  Dan, nyatanya, setiap orang memiliki takaran bahagia sendiri-sendiri. 

Apa yang terasa berat pada orang lain -sebenarnya- bukan ukuran apakah ia bahagia atau tidak. Atau, sebaliknya, apa yang membuat kita bahagia, belum tentu hal itu menjadi penyebab bahagianya orang lain. Setiap orang -sekali lagi- memiliki bahagianya sendiri. 

Alasan Bahagia

Suatu saat, di kelas parenting, seorang lelaki tengah baya yang menjadi mentor di kelas itu menuturkan  kebiasaannya di rumah. Ia selalu memasak untuk keluarganya di hari libur. Tugas memasak ini diawali dari berbelanja, memasak, menyajikan, dan membereskan dapur dalam keadaan bersih. Padahal, sebagai seorang ekskutif di perusahaan ternama, sebenarnya ia tak harus begitu. Ia bisa saja membawa keluarganya untuk makan di resto untuk memanjakan lidah. Tapi lelaki ini memilih memasak sendiri. Bahkan untuk urusan rumah tangga yang lain, seperti bebres rumah, bertaman, atau mengurusi pakaian anak-anak yang biasanya dikerjakan oleh perempuan. 


Mendengar aktivitas domestik pria tersebut, ibu-ibu yang hadir di kelas parenting itu berdecak kagum. Lalu, seorang ibu menyeletuk, "Wah, bahagia sekali isteri Bapak, ya?" Pertanyaan itu tentu saja mewakili banyak ibu yang lainnya. Dan, jawabannya, sudah barang tentu sangat ditunggu.

"Oh, saya tidak tahu isteri saya bahagia atau tidak dengan kegiatan saya ini. Saya juga melakukannya untuk kebahagiaan saya sendiri, bukan untuk kebahagiaan  isteri saya." 

"Tapi kebangetan jika isterinya tidak bahagia, memiliki suami seperti itu," bisik ibu yang lainnya. 

"Isteri saya orang yang mandiri. Kebahagiannya tidak bergantung pada orang lain. Dia punya ukuran sediri untuk kebahagiannya. Saya bangga padanya. Sebab, kebahagiaannya tidak ditentukan oleh sikap saya. Jadi, jika suatu saat saya tidak melakukan aktivitas seperti saya ceritakan tadi, isteri saya tidak akan kehilangan bahagianya." 

Hak Bahagia


"Dia sih pantas bahagia dengan apa yang sudah diraihnya sekarang ini."
"Kamu harusnya bersyukur. Tidak banyak orang yang sebahagia kamu."
"Saya tidak mau bersenang-senang dulu sampai rumah saya jadi, besok."

Orang-orang yang mengucapkan kata-kata tersebut hidupnya bisa kering. Sebab ia memandang kebahagiaan seperti memandang pelangi yang selalu berada di atas kepala orang lain. Pandangan seperti ini selalu menempatkan orang lain yang berhak bahagia, sedangkan dirinya tidak. Ia mengira bahagia itu menjadi hak orang lain. Dia merasa belum saatnya berbahagia.

Sebenarnya, tidak ada waktu khusus untuk berhak bahagia. Mereka yang menunda bahagia itu belum tentu akan meraih bahagianya pada waktu yang diimpikannya. Atau, bisa jadi, ketika waktu bahagianya tiba, usianya sudah tidak memenuhi syarat untuk bahagia (ups...!).
Pikirkan baik-baik untuk menunda bahagia atau mencari-cari waktu untuk bahagia. 

Jadi, kapan kita akan bahagia?

Bahagia itu tidak akan datang kalau kita tidak menciptakan. 
Ciptakan kebahagiaan Anda tanpa menundanya.







DUALISME DALAM UN 2016

Dok. Pribadi



DUALISME DALAM  UN 2016
Oleh:
Dra. Puji Handayani, M.Pd
(SMA N 1 Muntilan)

Ujian Nasional (UN) tinggal menghitung hari. Berbagai persiapaan dilakukan oleh sekolah untuk menyukseskan program pemerintah ini.  Bagi Peserta didik, UN  bertujuan  untuk  mengukur  pencapaian  kompetensi  lulusan  pada  mata pelajaran  secara  nasional  dengan  mengacu  pada  Standar  Kompetensi  Lulusan. Sedangkan bagi negara, UN  menjadi  sub-sistem  penilaian  dalam  Standar  Nasional  Pendidikan  (SNP) menjadi  salah  satu  tolak  ukur  pencapaian  SNP  dalam  rangka  penjaminan  dan peningkatan mutu pendidikan.
Kendati UN menjadi agenda tahunan, selalu ada hal baru yang perlu dicermati di setiap penyelenggaraan UN, terlebih untuk  UN tahun 2016 ini. Permendikbud No. 5 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan Ujian Nasional (UN) dan Ujian Sekolah (US) mengisyaratkan adanya dualisme dalam penyelenggaraan UN 2016. Dualisme itu menyangkut cara penyelenggaraan dan materi ujian.
PBT dan CBT
Pasal 20  ayat 1 Permendikbud No. 5 Tahun 2015 menginformasikan bahwa Pelaksanaan UN SMP/MTs, SMA/MA/SMAK/SMTK dan SMK/MAK dapat dilakukan melalui ujian berbasis kertas (Paper Based Test) dan/atau ujian berbasis komputer (Computer Based Test). Penyelenggaraan Uijan Nasional berbasis komputer pada tahun ini merupakan kelanjutan dari program rintisan di tahun 2015. Pada saat itu rintisan UNBK  mengikutsertakan sebanyak 555 sekolah yang terdiri atas  42 SMP/MTs, 135 SMA/MA, dan 378 SMK di 29 Provinsi dan Luar Negeri. Kesuksesan penyelenggaraan CBT (UNBK) mendorong pemerintah untuk melanjutkankannya.
Ada beberapa alasan mengapa pemerintah perlu didukung untuk melanjutkan program rintisan penyelenggaraan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) ini. Pertama, UNBK (CBT) lebih hemat dibandingkan dengan PBT yang menggunakan kertas soal untuk sekali pakai. Dalam UNBK, soal bisa digunakan berulang-ulang tanpa harus ada pemborosan kertas. Kedua, UNBK lebih efisien dalam hal penggandaan soal, pendistribusian, dan pengamanan. Ketiga, UNBK lebih mengedepankan kejujuran bagi para peserta karena kemungkinan mencontek lebih kecil. Dan, keempat, UNBK dapat meminimalisasi kebocoran soal.
Dua Kurikulum
Bukan hanya medianya yang ganda, materi untuk UN 2016 juga mencakupi materi dari dua kurikulum. Sebagaimana telah diketahui bahwa sejak tahun 2013, Indonesia menerapkan kurikulum ganda, yakni kurikulum 2013 dan kurikulum 2006. Padahal, salah satu fungsi UN adalah untuk melakukan pemetaann. Bagaimana pemetaan bisa dilakukan jika harus ada dua macam soal?  Terkait dengan hal ini, pemerintah mengambil kebijakan untuk mengidentifikasi materi-materi yang sama diantara kedua kurikulum tersebut. Identifikasi yang dilakukan mewujudkan adanya materi irisan.
Peraturan  Badan  Standar  Nasional Pendidikan  Nomor:  0034/P/BSNP/XII/2015  tentang  Prosedur  Operasional  Standar Penyelenggaraan Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2015/2016 menegaskan  bahwa Materi  yang  diujikan  dalam  UN  adalah  materi  yang  diajarkan  pada  kurikulum yang  berlaku  berdasarkan  Permendikbud  No mor  22  Tahun  2006  dan Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013. Hasil identifikasi dari dua kurikulum tersebut digunakan untuk menyusun SKL dan kisi-kisi.

Adanya dualisme dalam UN 2016 semestinya tetap disikapi secara positif. Pemerintah pasti sudah mengupayakan hal terbaik. Oleh karenanya, sekolah tetap harus bersikap optimis  menyambut UN 2016.  Optimisme itu dapat diwujudkan dalam upaya memotivasi peserta didik untuk berusaha secara optimal menghadapi UN. Mari kita rayakan UN 2016 dengan berpedoman pada motto: Prestasi Ya, Jujur Harus!

MERAPI DI UJUNG GALAR


Kumandang adzan subuh mengalun dari sebuah mushola kecil di pinggir kali. Beberapa saat kemudian kidung puji-pujian mengumandang, menyibak dinginnya udara pagi, menyelusup rimbun rumpun bambu.  Aku sudah bisa memastikan, pastilah Mbah Naryo yang bersenandung. Siapa lagi kalau bukan beliau? Orang lain biasanya  lebih memilih bergelung di bawah selimut, mencoba mengusir dinginnya udara di awal musim kemarau. Aku sendiri lebih suka mendekap Azizah, dan beralasan bahwa bayiku masih menetek. Nanti sajalah, terlambat solat subuh pasti dimaklumi. Di samping itu, buat apa terburu-buru bangun, toh ini tidak di pengungsian, jadi tidak harus berebut kamar mandi.

Aku pantas bersyukur sudah boleh meninggalkan tenda pengungsian di kecamatan. Sebenarnya aku mengungsi bukan karena takut wedhus Gembel yang sewaktu-waktu akan meluncur dari puncak merapi. Sudah sejak bertahun-tahun aku akrab dengan polah tingkah Merapi, dan bersahabat dengan Wedhus gembel. Aku dan  warga yang lain menerima gejolak Merapi sebagai suatu kewajaran. Dulu tidak pernah ada yang meributkan keselamatan kami. Tetapi akhir-akhir ini kami dibuat cemas oleh pemberitaan yang heboh, baik di koran maupun di TV.
Aku sendiri tidak tahu mengapa Merapi menjadi pusat perhatian. Pemberitaan yang superheboh dan pemerintah yang takut dinilai lamban menyikapi Merapi, menyebabkan  kami diuber-uber para pamong desa untuk mengungsi. Padahal Merapi masih tenang-tenang saja. Berat bagi kami berpisah dengan ternak-ternak kami. Tapi, aku sendiri risih setiap saat diuber pakai kentongan dan sirine untuk segera naik ke truk-truk pengangkut.
”Kami hanya ingin sampeyan-sampeyan ini selamat,” kata Pak Pamong.
”Tapi Merapi kan belum meletus? Mengapa kami sudah harus mengungsi?”
”Kalau menunggu meletus, bagaimana kami bisa mengamankan sampeyan…?”
”Sudahlah, wong di sana juga diopeni, tinggal makan enak, tidur nyenyak, kok masih ngeyel…!” tambah Pak Sekdes nyinyir.
Aku hanya terdiam. Tak ada gunanya lagi menjawab. Toh mereka juga hanya melaksanakan tugasnya sebagai pamong. Aku dengar dana untuk pengungsi memang sangat besar untuk daerah kami. Pantas saja Pak Pamong menjanjikan makan enak di pengungsian. Dana yang besar sudah turun, tetapi Merapi masih tenang-tenang saja. Apa jadinya kalau ternyata tidak ada warga yang mau mengungsi? Tentunya aparat akan mendapat malu. Maka, mau tidak mau, harus ada warga yang mengungsi. Dengan cara apa pun!
”Ayo jalan, tunggu apa lagi? Tidak usah banyak-banyak barang yang dibawa!” Bu RT menarik tanganku kasar.
”Maaf, tapi anakku…!” Aku bermaksud ingin masuk ke rumah lagi untuk mengambil popok lebih banyak dulu karena balitaku masih mengompol. Apa jdinya kalau tidur di tenda dan ompol anakku ke mana-mana.
”Ya justru sampeyan punya dua balita itu maka kami dahulukan untuk mengungsi!” sahut Pak Pamong tak mengerti.
”.Maksudku…”
”Sudahlah! Ini harus segera. Jam empat nanti ada shootingan di tempat pengungsian. Sampeyan-sampeyan ini mau diliput, masuk TV,” jelas salah satu staf kecamatan.
”Nanti kalau ditanya-tanya oleh wartawan atau bapak-bapak pejabat, jawab saja bahwa sampeyan sangat berterima kasih karena pemerintah sangat peduli pada keselamatan sampeyan,” kata seorang bapak dari kantor kecamatan.
”Dengar…Mbah?” Tanya Bu RT mengarah pada Mbah Samini.
Inggih, Bu.”
Aku terbawa arus saja bersama kedua balitaku, Rahman dan Azizah, menaiki truk bersama pengungsi lain. Berdiri di bak truk, bergoyang-goyang di atas jalan berbatu, aku hanya sempat melambaikan tangan pada suamiku yang pulang dari sawah.
”Jaga anak-anak…!” teriak suamiku sambil membetulkan letak rumput di punggungnya.
”Pasti…! Jangan khawatir…!” balasku tak kalah kerasnya, sekadar menghalau rasa tak nyaman yang menyeruak di rongga dada.
Truk perlahan, menjauh dari lereng Merapi, meninggalkan kampung halamanku.
Kami terangguk-angguk di atasnya. Azizah kudekap dengan erat untuk mengusir angin yang semribit menerpa kepala kami, sementara Rahman terduduk dengan manis di atas buntalan barang bawaan kami. Setengah jam kemudian truk yang membawa kami memasuki lapangan Kecamatan Banyubiru
Luar biasa…! Kami disambut layaknya tamu penting. Puluhan pejabat berlari ke  arah kami, diikuti beberapa orang membawa kamera besar yang terus mengarah pada kami. Beberapa orang berusaha mengacungkan mike dan bertanya kearah kami, tetapi salah satu petugas segera melarangnya.
”Nanti...! Nanti dulu, wawancaranya nanti saja. Biarkan  mereka beristirahat di tenda dulu!”
”Ayo semua turun..! Kami akan tunjukkan tenda untuk sampeyan!”
Aku masih termangu di atas truk. Azizah masih kudekap. Kepalanya kututupi ujung jarit untuk  menyembunyikan mulutnya yang masih mencecap tetekku. Dari atas truk kulihat deretan tenda-tenda tertata rapi di sebelah kiri lapangan. Sementara di sebelah kanan berjajar tenda dengan ukuran lebih kecil dengan warna yang berbeda. Beberapa tenda bergambar lambang-lambang partai seperti yang kulihat dalam kartu pemilih saat pemilu lalu.
Dari tenda-tenda itulah beberapa lelaki berlari keluar, dan dengan sigap membantu kami turun dari truk. Pada kaos yang dikenakannya tertulis; RELAWAN PEDULI MERAPI, lalu di bagian dadanya bergambar lambang partai tertentu. Ada juga yang berpakaian mirip tentara, pada bagian punggungnya tertulis LASKAR BELA RAKYAT, yang lainya lagi hanya mengenakan kaos putih biasa bertuliskan PEMUDA TANGGAP BENCANA dan dilengkapi lencana bergambar partai pula. Mereka berebut untuk memberikan bantuan pada kami, sepertinya mereka bersaing untuk dinilai paling peduli pada nasib kami.
Aku dituntunnya dengan hati-hati. Dengan senyum ramah, Azizah  dililingnya. Seorang pemuda tampan menggamit tangan Rahman dan menuntunnya, sedangkan tangan lainnya menjinjing buntalan berisi pakaian kami. Aku melangkah dengan ragu di antara lalu lalang wartawan yang memanggul kamera-kamera besar. Apa istimewanya kami sehingga mereka begitu perhatian pada kami.
”Tolong Mas, tolong beri jalan dulu. Ibu ini akan segera menidurkan bayinya,” ungkap seorang pemuda yang menuntunku.
”Kami juga butuh berita, Mas!” jawab seorang wartawan agak gusar.
”Saya tahu, tapi saya juga berkewajiban menjalankan tugas saya dengan baik, sebagai relawan.”
Ooh…, dia relawan! Tukang menolong rakyat kecil rupanya. Tapi mengapa harus bermarkas di sini, menunggu pengungsi datang? Mengapa mereka tidak naik saja ke lereng Merapi, tinggal bersama kami, sehingga bila sewaktu-waktu Merapi benar-benar meletus, mereka bisa menolong kami? Mengapa mereka hanya menunggu kami turun ke sini, dan setelah sampai di sini baru mereka berebut untuk menarik simpati kami? Seandainya saja mereka mau menyertai kami, di desa, tentu kami lebih merasa tenang. Dana yang dikeluarkan pemerintah tidak akan terlalu besar, sebab kami pasti akan dengan suka rela menjamu mereka. Tapi…entahlah! Yang jelas, mereka justru membuat posko di sini.
Aku menurut saja mengikuti langkah pemuda yang menggandengku. Berjalan lambat, berdesak-desakan hingga sampai di tenda.
”Nah, Ibu, ini tenda Ibu. Silakan Ibu beristirahat dulu,” kata pemuda itu.
Inggih. Maturnuwun, Mas!” jawabku singkat.
Baru saja pemuda itu berlalu, datang pada kami seorang gadis cantik. Dengan senyuman ramah ia memberi penjelasan tentang letak kamar mandi, jam makan, peminjaman peralatan tidur seperti bantal dan selimut, dan lain-lain. Dan semua penjelasan itu hanya mampu kujawab, ”Inggih, maturnuwun.”
Sore hari, sehabis makan malam yang tidak menjadi kebiasaan kami sebelumnya, kami bisa menonton TV bersama. Di sebelah tenggara lapangan, di samping kantor kecamatan, di sana ada TV sangat besar yang bisa ditonton dari jarak cukup jauh. Rahman merengek sambil terus menarik-narik bajuku untuk menonton lebih dekat. Maklum, di rumah tidak ada TV, jadi ia ingin menonton sepuasnya. Aku ikuti saja langkahnya sambil terus mendekap Azizah dalam gendonganku.
Aku berharap bisa menonton hiburan, kemeriahan kota, atau film India yang penuh dengan tarian. Tetapi saying sekali, ternyata yang sedang ditayangkan adalah tentang Merapi juga. Bahkan…, astaga….! Aku bisa menonton desaku yang sunyi setelah ditinggal mengungsi, menonton pengungsi di lapangan ini, dan…menonton diriku sendiri. Beberapa di antara kami akan tertawa-tawa saat melihat wajah kami nongol di TV, begitu juga anakku.
”Mak…, Mak…lihat, aku masuk TV!” teriak Rahman menunjuk TV.
”Iya, iya, Emak sudah lihat,” jawabku.
Kulihat Rahman sedang dibantu oleh seorang relawan saat turun dari truk, dan aku digandeng seorang pemuda saat dikerumuni oleh para wartawan. Wah cepat sekali beritanya masuk TV, padahal baru terjadi beberapa jam yang lalu.
”Eh, itu kan Kang Wasiyo yang nyunggi karung itu, Mak? Dia tidak ikut ngungsi kok ikutan masuk TV, Mak?”
”Iya, ya? Ssstt…jangan berisik, coba dengar dulu beritanya!” aku menenangkan Rahman. Walaupun sebenarnya aku heran, mengapa Wasiyo bisa masuk TV. Sepertinya karung yang dibawanya tidak berisi bekal mengungsi. Biasanya Wasiyo akan memikul karung sepulang dari belanja di pasar.  Bukankah setiap hari memang ia kulakan di pasar Talun? Karena memang dialah satu-satunya pemilik warung di desa kami. Ya, saya yakin. Itu  Kang Wasiyo! Dia baru saja kulakan di pasar. Tapi mengapa di TV diberitakan kepanikan warga saat akan mengungsi? Kang Wasiyo tidak mungkin mengungsi. Atau, jangan-jangan wartawan ingin membuat berita yang heboh, tapi sulit mendapatkan gambar, lalu asal shooting saja? Wah….?! Tiba-tiba aku merasa muak melihat berita di TV.
”Rahman, ayo kita pulang, adikmu harus segera bobok. Kamu juga, nanti ndak masuk angina.”
”Pulang ke rumah, Mak?”
”Oh, tidak. Ya pulang ke tenda.” Jawabku sambil terus berjalan meninggalkan halaman kantor kecamatan.
”Pulang ke rumahnya kapan, Mak?”
”Besok kalau keadaan sudah aman, Nak.”
”Memangnya sekarang belum aman? Merapi kenapa, Mak?”
”Merapi mau njebluk!”
”Besok kalau sudah njebluk, kita pulang ya, Mak?”
”Husss…!”
”Mak…”
Aku menarik lengan anakku saat ia mencoba bertanya tentang bilik-bilik bambu yang ada di sebelah posko PMI. Ia tidak boleh melihat isi bilik itu, apa lagi kalau sedang dipakai. Tempat itulah yang disebut BILIK MESRA. Disediakan khusus untuk suami istri yang ingin ’menunaikan kewajibannya’. Aneh-aneh saja! Aparat sudah mengatur bahwa yang mengungsi adalah perempuan dan anak-anak, sementara para suami dan pemuda menjaga desa. Kok di sini disediakan bilik mesra? Siapa yang mau pakai? Kalau toh ada pengungsi yang mau pakai, bagaimana panitia mengetahui pemakainya benar-benar suami istri atau bukan?  Bagaimana kalau ada orang yang mengaku-aku sebagai pasangan suami istri, tetapi ternyata bukan? Sebenarnya bilik mesra disediakan untuk siapa? Pengungsi atau….?
Menganggur, tanpa pekerjaan, hanya makan tidur, membuat kami semakin jenuh tinggal di pengungsian. Aku merindukan desaku, merindukan sawahku, merindukan kambing-kambingku.. Delapan hari sudah aku mengungsi, tetapi belum diperbolehkan pulang. ”Jangan pulang dulu, sebentar lagi Merapi pasti meletus,” selalu kata itu yang aku dengar untuk mencegah kami pulang. Untunglah, dua hari kemudian kami dipulangkan.
Kini aku sudah di rumah, mendekap Azizah, berdampingan dengan Rahman masih bermalasan untuk bangun pagi. Kang Sarmun, suamiku, sudah menyusul Mbah Naryo di mushola. Aku benar-benar harus terbangun saat Kang Sarmun sudah pulang dari mushola. Menjerang air, membuat teh panas, memanasi sayur, menjadi kegiatan rutin yang  harus kukerjakan dengan cepat sebelum anak-anakku terbangun. Dan pagi ini, aku melakukannya dengan senang hati karena aku sudah pulang dari mengungsi, dan bisa berkumpul lagi dengan suamiku.
Dua cangkir teh baru saja aku seduh dengan air panas saat tiba-tiba tanah yang kupijak bergetar. Kulihat daun jendela bergoyang-goyang. Jam dinding tua terjatuh dari cantelan, dan amben di dapur pun terguncang. Untuk beberapa saat aku terpaku, menduga-duga apa yang terjadi. Namun dari luar, Kang Sarmun yang baru saja pulang dari mushola berteriak, ”Lindduu…lindu…lindu…Sumarni, anakmu bawa keluar…!”
”Azizaahh…Rahman…, Kang, tolong anak kita Kang…!” tangisku membaur dengan jerit para tetangga. Segera kubopong Azizah, dan Rahman kuseret masih dalam kantuknya. Kami memburu keluar rumah. Tetapi…astaga, hujan pasir menyambut kami di luar. Sementara, di sebelah timur awan panas bergulung-gulung di puncak gunung. Merapi seolah murka.
”Wedhus gembel…wedhus gembel…awas…!”
”Lindu…lindu…, gempa bumi..!”
”Bapak…!”
”Maakk…!”
”Anakku…!”
Teriakan, tangis, dan jeritan membaur bersama semburan awan panas yang membubung. Merapi benar-benar meletus!Ya Tuhan, kiamatkah ini? Hatiku memekik. Hiruk-pikuk, jerit tangis anak-anak, pukulan kentongan, sirine yang meraung-raung membuatku semakin panik. Bingung, di luar dihujani abu, di dalam rumah takut runtuh. Kulindungi kepala anak-anakku dengan tampah yang kebetulan berada di tritikan. Orang-orang berlarian menuju kantor kelurahan, berharap ada pertolongan di sana.
Adalah Mbah Naryo, duda tua yang tidak larut dalam kepanikan. Ia hanya berdiri dengan tenang di emperan rumahnya. Memandangi Merapi dengan penuh sasmita. Lalu senyumnya menyungging di antara keriput wajahnya.
”Mbah, Simbah tidak ikut ke kelurahan? Mari saya tuntun, Mbah. Atau saya gendong?” ajak Kang Sarmun.
”Sudahlah…saya cukup di sini saja. Bawa anak isterimu ke sana, siapa tahu truk pengangkut datang sebentar lagi,” jawab Mbah Naryo tenang.
”Tapi, Mbah…kalau Simbah tidak mengungsi, saya juga tidak akan ke sana. Saya akan menemani Simbah.”
”Bagaimana dengan anak isterimu?”
”Aku menurut kata Kang Sarmun saja. Di kelurahan belum ada truk. Nanti kalau harus mengungsi pasti ada pengumuman.” Jawabku menyela.
”Kita mengalami hal seperti ini bukan baru sekali ini saja, Mbah. Merapi akan baik pada kita.” Jawab suamiku.
”Tapi ini dengan gempa, Kang” sahutku..
”Ya, karena material yang dikirim untuk kita lebih banyak, makanya guncangannya lebih terasa.” Jawab Kang Sarmun tenang.
”Baguslah kalau begitu. Simbah jadi punya teman untuk mengusir wedhus gembel itu agar tidak sampai di sini.”
”Mengusir... bagaimana?”
”Sudahlah, semakin cepat kita lakukan akan semakin baik. Bantu Simbah mengambil galar-galar ini, lalu bawa ke luar!”
            Kang Sarmun mengikuti keinginan duda renta itu tanpa banyak bicara, meski di dalam benaknya penuh tanya. Dalam beberapa saat saja amben yang berada di dapur itu sudah melompong tanpa galar. Kang Sarmun memikul galar-galar itu keluar, diikuti Mbah Naryo menenteng botol minyak tanah. Kedua lelaki itu beriringan menuju samping kanan rumah. Dari sini tampak gugusan lava menggumpal, membubung, menyembunyikan sosok Merapi yang biasanya tampak agung. Kang Sarmun dan Mbah Naryo duduk berdampingan menghadap ke arah Merapi yang sedang murka. Di depan mereka teronggok tumpukan galar.
”Nyalakan apinya, Sarmun!”suara Mbah Naryo memberi perintah, sambil menyodorkan korek api kepada Kang Sarmun. Lelaki tua itu mencurahkan sedikit minyak tanah pada tumpukan galar agar api mudah menyala. Dan, dalam hitungan detik, api mulai berkobar-kobar. Mbah Naryo mengamati lidah api yang seolah meronta-ronta. Sesaat kemudian dia pun tersenyum.
”Lihat, lidah apinya mengarah ke selatan. Ke sanalah wedhus gembel akan menuju. Kita akan aman di sini. Kalau harus pergi, wedus gembel itu yang akan pergi, bukan kita. Kita tak perlu mengungsi.”
”Mengapa Simbah sangat yakin?”
”Karena kita telah berhasil mengusirnya. Ya,ya, kita telah mengusirnya!”
            Kang Sarmun tak menyahut, begitu juga aku, meski di hati bergelayut berbagai perasaan. Aku tidak mengerti mengapa lelaki tua itu begitu yakin bahwa ia telah berhasil menghalau bencana yang ditakutkan banyak orang.Tetapi melihat ketenangan Mbah Naryo, kecemasanku pun berkurang. Saya percaya, Mbah Naryo, duda renta nan lugu, tidak pernah neko-neko, dan selalu bersahaja, pasti lebih tanggap ing sasmito saat menyikapi wedhus gembel. Meskipun hanya berbekal seujung galar.
            Waktu terus merambat siang. Kalau saja matahari tidak terhalang wedhus gembel, pasti sinarnya sudah mulai menghangat. Namun desa seolah mati. Tak ada aktivitas. Semua masih dicekam berbagai perasaan yang mengharu biru. Yang mengherankan, tidak ada perintah untuk mengungsi. Tidak ada truk pengangkut yang berjajar di depan kantor kelurahan. Hanya ada beberapa relawan bersepeda motor yang mencoba menenangkan warga untuk tidak panik. Aneh, di mana para relawan, para penghuni posko dari berbagai partai yang kemarin berebut menarik simpati kami? Di manakah mereka?
            Tiga hari setelah peristiwa itu, Bapak Pamong kembali mengumpulkan kami. Bukan untuk mengungsi lagi, meskipun Merapi benar telah meletus, tetapi untuk mnggalang bantuan bagi korban gempa di Bantul. Kami menyambut hangat ajakan Pak Pamong. Dengan suka rela, setulus-tulusnya kami memberikan apa yang kami punya, sayuran, beras, kelapa, ketela, bahkan beberapa ekor ayam kampung dikumpulkan di kantor kelurahan. Tahulah kami bahwa Merapi terbatuk karena terguncang gempa yang berpusat di sana. Dan, Mbah Naryo benar, wedhus gembel tidak menjangkau desaku. Tetapi angina yang bertiup telah menerbangkan sebagian abu ke desaku.

Kamus kecil
Wedhus Gembel    : sebutan yang diberikan warga sekitar Merapi saat ada awan panas.
sampeyan              : Kamu, Anda
diopeni                  : dirawat
inggih                    : iya
semribit                 : hembusan angina yang cukup terasa
dililing                   : digoda (menggoda anak kecil)
lindu                      : gempa bumi
tampah                  : nyiru
tritikan                   : teras, emperan
amben                   : balai-balai
galar                      : galur-galur yang terbuat dari bambu untuk membuat balai-balai
tanggap ing sasmito: peka terhadap keadaan melalui indera keenam
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Binawa Litera - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger